Rabu, 16 Agustus 2017

Review How To Be A Latin Lover

Pertama kali menonton How To Be A Latin Lover saya tidak pernah menduga bahwa film ini merupakan film bertema komedi keluarga. mungkin hal ini tidak lain dikarenakan pemilihan judulnya yang unik. saya sempat berfikir film ini akan seperti film komedi dewasa lainnya seperti 21 and over dan project x tetapi semakin diikuti teryata film ini lebih mengarah ke tema keluarga danyang tentu saja dibumbui komedi yang akan membuatmu tertawa terbahak bahak.

filmnya sendiri bercerita tentang Maximo (Eugenio Debrez) pria yang akhirnya menjadi penggoda para wanita kaya dengan harapan dapan menikahinya dan hidup nyaman tanpa harus bekerja karena dia tidak percaya apa yang dikatakan ayahnya bahwa kita mendapatkan apa yang kita usahakan bukan yang kita harapkan. namun setelah 25 tahun pernikahannya dengan seorang janda kaya maximo dicampakkan membuat dia harus pindah ke rumah adiknya Sara (Salma Hayek) yang tinggal besama anak laki-lakinya Hugo (Raphael Alejandro)  dimana di tempat itu maximo menyadari arti keluarga.

mungkin film how to be a latin lover terlihat sama dengan film komedi keluarga lainnya dengan formula yang sama dimana sang pemeran utama memanfaatkan segala yang ada disekitarnya guna mendapatkan tujuannya yang mana dalam upaya tersebut diselipi kekonyolan kekonyolan yang menggelitik perut dan perhalan -lahan hal tersebut membuat sang tokoh utama tanpa disadari menjalin ikatan dengan orang disekitarnya yang kemudian dilanjutkan menghancurkan hal tersebut akibat kecerobohannya sendiri yang kemudian diakhiri dengan usaha tokoh utama untuk memperbaiki hubungan dengan orang disekitarnya. memang terlihat klise tapi bagi saya sendiri masih sangat menikmati jalan ceritanya serta lawakkan-lawakkan yang dihadirkan jauh dari kesan vulgar seperti di film 21 and over dan koleganya. selain komedinya yang juga terlihat disini bagaimana relasi hubungan keluarga yang dihadirkan Maximo dengan Sara dan Hugo. untuk nama terakhir relasi hubungannya terlihat sangat natural dan mengingatkan saya dengan film speedy scandal dimana maximo menyuruh hugo untuk mendekati temannya agar Maximo bisa dekat dengan nenek temannya Hugo itu, serta jangan lupakan hubungan bromance Maximo dengan Rick (Rob Lowe) yang saling membantu sebagai sesama lelaki penggoda. selain itu tema latin kental dalam film ini ditandai dengan percakapan dan backsoundnya merupakan sedikit hal unik yang dapat kamu lihat di film ini. kembali ke komedi yang dtawarkan film ini sukses membuat saya tertawa terpingkal-pingkal melihat kekonyolan Maximo dengan tingkah laku dan gaya flamboyannya. seperti yang saya sebutkan sebelumnya lawakkan yang disampaikan jauh dari kesan vulgar murni dari tingkah laku dan situasi yang dialami tokoh utamanya. mungkin yang sedikit mengganggu karena team pria penggoda wanita kaya yang terlihat di film ini yang menjadi sedikit nilai negatif bagi saya. 

film How To Be A Latin Lover layak ditonton bagi kamu yang butuh hiburan dan gelak tawa dan dijamin kamu akan tertawa dibawanya selain itu juga kamu bisa menikmati hubungan keluarga yang hangat serta arti penting keluarga. How To Be A Latin Lover tontonan yang pas untuk menghibur anda diwaktu luang rutinitas anda guna sedikit meringankan urat tegang dengan lawakkannya yang jauh dari unsur vulgar.

Senin, 14 Agustus 2017

REVIEW ANNABELLE CREATION

      Siapa yang tidak kenal annnabelle boneka hantu yang langsung mencuri perhatian lewat kesuksesan film film conjuring. tidak butuh lama bagi annabelle untuk dibuat filmnya sendiri yang kelak akan memperkaya conjuring universe. walau mendapat kritikan karena tidak sesolid film conjuring annabelle tetap menghasilkan keuntungan yang besar yang memastikan akan dibuat sekuel selanjutnya atau lebih tepatnya prekuel. kalau di film pertamanya kita hannya mengetahui boneka annabelle tidak dijelaskan secara jelas asal-usul boneka annabelle makan di film keduanya ini semua itu akan terungkap selain itu dipertengahan film kita akan disuguhi sisipan spin off selanjutnya dari conjuring universe. dengan menunjuk David F Sanberg yang sempat mencuri perhatian dengan film horror buatannya light out sebagai sutradara dengan harapan prekuel annabelle ini dapat memperbaiki kesalahan kesalahan di film pertamanya dan luar biasanya hal itu dijawab dengan sempurna oleh david sempurna oleh David F Sanberg.
      Sedari awal kita sudah disuguhi atmosfer sunyi dari filmnya yang sukses membuat kita terhentak seolah menjadi salam perkenalan dari david s sanberg. padahal lucunya itu merupakan momen keluarga yang seharusnya penuh keceriaan tetapi dengan kejutan hening tanpa backsound sukses membuat kta terhentak. ceritanya sendiri dibuka dengan perkenalan keluarga mullins yang berprofesi sebagai pembuat mainan anak termasuk salah satunya boneka yang diberi nama annabelle sebagai penghormatan terhadap anaknya Bee yang meninggal akibat kecelakaan teragis berselang 12 tahun kemudian keluarga mullins mengijinkan sekelompok anak-anak dari panti asuhan untuk tinggal dirumah mereka dengan harapaan agar rumah tersebut kembali dipenuhi kerinangan suara anak anak yang mereka rindukan setelah kematian anak semata wayang mereka. naumn yang tak mereka sadari hal tersebut justru membawa malapetaka akibat terlepasnya kekuatan jahat yang siap meneror seluruh anggota rumah. sedari awal saya sudah dapat menikmati suasana horror yang disuguhkan , yang sukses memacu adrenalin penontonnya. david sanberg tahu persis cara mmemainka tempo dari suasana malam yang mencekam yang sukses membuat penonton tidak nyaman dan berharap pagi segera datang namun demikian pagi pun tidak menjadi seusatu yang aman david f sanber seolah mengisyaratkan tidak ada suatu yang benar benar aman di film ini suasana apapun dapat dibuat semencekam malam. 
     Cerita yang dibuat David F Sanberg terasa original meski diakui motif awalnya tetap sama yaitu memasukkan unsur pemanggilan roh tapi jelas cara David F Sanberg mengeksekusinya terkesan lebih baik dibanding film pertamanya yang mengangkat tema tentang sekte sesat yang tidak dijelaskan secara rinci. David F Sanberg sukses menyambungkan prekuel annabelle ini dengan cerita film pertamanya yang membuat semuanya jadi terlihat masuk akal. kredit juga patut diberikan pada dua aktor cilik Talitha Bateman yang berperan sebagai janice dan Lulu Wilson yang berperan sebagai linda yang sempat mencuri perhatian di film Ouija : Origin of Evil. keduanya sukses berbagi peran di paruh pertama dan kedua film. relasi keduanya pun sukses digambarkan dengan baik oleh David F Sanberg ini dimana mereka saling dimana mereka saling mendukung dan melindungi. diparuh awal film mungkin sosok janice diberi porsi lebih dibanding karakter lain hingga klimaks paruh awal menjadi penanda sosok linda mengambil alih panggung dengan penampilannya yang berani guna melindungi sang sahabat janice. dari awalm hingga akhir David F Sanberg terus memacu adrenalin dengan penampakan dan jump scare yang sukses membuat kita merasa tidak nyaman. penampakan sosok hantu dan jumps scare terasa tidak berlebihan. saya suka cara sanberg menampilkan sosok seram itu kita tahu sosok seram itu tapi kita tidak perah menduga kapan dan dari mana keluarnya sosok tersebut. david sanberg tahu benar cara mempermainkan adrenalin penontonnya sampai pada ending klimaks film dengan twist yang kita sangka.
      annabelle creation mungkin masuk dalam salah satu film horror terbaik tahun ini. terlepas dari filmnya yang pertama prekuel annabelle ini mendapat banyak peningkatan di tangan sutradara film light out origin cerita yang lebih solid porsi horror yang lebih baik bukan sekedar mengejutkan lebih dari itu atmosfer horror sudah dibangun sedari awal, tempo yang tidak pernah mengendur dari awal sampai akhir mendai beberapa kelebihan film ini dibandung film pertamanya juga jangan lupakan penampilan apik dua aktor cilik yang sukses dibawakan Lulu Wilson dan Talitha Bateman. bagi kalian penggemar film horror sepertinya layak menyisihkan waktu menikmati keseraman yang ditawarkan annabelle creation. dari saya selamat menikmati sensasi horror annabelle creation.